Catatan Dari Penjara Seri 18 : Penutup Tulisan Ustad Abu Bakar Ba’asyir

بسم الله الرحمن الرحيم
Penutup Tulisan Ustad Abu Bakar Ba’asyir
Tentang  : Bagaimana Mengamalkan Dinul Islam ?
 
Catatan dari penjara seri 18 redaksi menampilkan bagian terakhir dari tulisan ustad Abu Bakar Ba’asyir , harapan kami semoga goresan pena beliau menjadi tambahan ilmu dan  pemahaman kita bersama sehingga kita memahami cara untuk mengamalkan dan memperjuangkan Dinul Islam dalam rangka iqomatuddin dan semoga catatan beliau dari penjara ini menjadi catatan amal sholeh beliau di yaumil akhir. Amiin

Selamat Menyimak (from : saveabb.com/red)

 
 
PENUTUP
 
Demikianlah risalah sederhana ini kami sampaikan semoga bermanfaat untuk membantu mukhasabah (introspeksi diri) kita umat Islam, baik didalam cara mengamalkan Islam maupun dalam cara memperjuangkan Islam, sehingga benar-benar amalan kita dan perjuangan kita umat Islam menepati Sunnah Nabi SAW dengan demikian Insya Allah, Allah SWT berkenan menolong kita sehingga kemenangan dunia akherat dapat kita capai.

Kalau risalah sederhana ini pembahasannya menepati Al Quran dan Sunnah itu semata semata karena karunia Allah SWT dan bimbingan-Nya, yang wajib kita syukuri dengan mengamalkan menurut kemampuan, tetapi kalau di dalamnya ada kekeliruan itu adalah dari Syeitan dan dari kelemahan penulis, semoga Allah memberi maaf, dan kepada para pembaca, saya harapkan berkenan meluruskannya dengan yang sebenarnya. Untuk itu saya sampaikan jazakumullah khoiran katsiro.
 
Akhirnya marilah kita panjatkan do’a semoga Allah SWT berkenan membimbing kita sehingga amalan dan perjuangan kita dalam menegakkan Syariat-Nya menepati Sunnah Nabi-Nya.:

 
“Ya Allah, bersholawatlah atas Muhammad SAW dan keluarganya serta para sahabatnya, dan curahkan segala keselamatan terhadap mereka, Ya Allah Maha Pendengar seruan orang yang sedang membutuhkannya, serta Maha Pengabul permohonan orang-orang yang berdoa. Aku memohon dan bertawassul dengan segala nama-nama Mu yang telah Kau namakan diri-Mu dengannya, atau yang Kau turunkan dalam kitab-Mu atau yang Kau telah ajarkan pada seseorang hamba-Mu, atau yang sedang Kau simpan dalam ilmu ghoib pada dzat-Mu, hendaknya Engkau berkenan untuk memberi hidayah pada diri kami kejalan Mu yang lurus, dan tetapkanlah kami di dalamnya dengan ketaatan-Mu, serta ampunilah segala dosa kami. Engkaulah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.
 
“Ya Allah, ampunilah dosa dan kesalahan kaumku, sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengetahui akan hal ini, yaitu kedholiman terhadap syariat dan perjuangan-perjuangannya”.
 
“Ya Allah, tolonglah para Mujahid dan para Da’i yang ikhlas, luruskan segala pendapat-pendapat mereka, satukan barisan-barisan mereka dan tepatkan bidikan-bidikan mereka, Engkau Maha Mampu atas segala sesuatu”.
 
“Ya Allah, kami memohon pada Mu ampunan dan keselamatan dari segala cobaan, baik di dalam agama dan di dunia maupun di akherat kelak”.
 
“Ya Allah, siapapun yang berkehendak untuk membahayakan kami, serta kaum Muslimin secara umum, maka hanguskan tipu daya dan makar mereka dan putuskan segala dalih dan alasan mereka kemudian hancuran mereka sehancur-hancurnya”.
 
“Ya Allah, Engkau telah melimpah-ruahkan bagi George W. Bush dan Aerol Sharon serta para pemuka dan pendukung mereka, segala harta dan perhiasan dan persenjataan yang kuat dalam kehidupan dunia ini. Wahai Tuhan kami, tetapi karunia-Mu itu justru mereka gunakan untuk menindas dan menyesatkan manusia dari jalan-Mu. Wahai Tuhan kami, binasakan harta-harta dan persenjataan mereka dan kunci matilah hati-hati mereka. Sesungguhnya mereka tidak lagi beriman hingga mengenyam adzab yang sangat pedih dari-Mu”.
 
“Ya Allah, karuniakan terhadap umat ini perkara yang lurus yaitu Khilafah Islamiyah, yang diagungkan di dalamnya ahli-ahli ketaatan-Mu, dan dihinakan di dalamnya ahli-ahli maksiat terhadap-Mu serta digalakkan di dalamnya kemakrufan dan dicegah di dalamnya segala kemungkaran. Wahai Yang Maha Pengabul Segala Doa”.

“Ya Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Pencipta Langit, Bumi dan segala perbuatan mahluk di dalamnya yang Maha Luas Rahmat dan Hikmahnya dalam seluruh takdir dan ketentuannya, kami mohon rahmat-Mu, karuniakan kepada kami keihlasan dan kesabaran dalam menerima segala ketentuan-Mu”
 
“Ya Allah, jernihkan hati kami, dari segala benih kesyirikan, masukkan kami dalam hitungan hamba-hambaMu yang engkau ridhoi dan jadikan kami sebagai pejuang-pejuang penegak Syariat-Mu yang ikhlas. Ya Allah, jauhkanlah dari kami segala takdir yang buruk dan selamatkan kami dari makar dan tipu daya iblis serta serdadunya, satukan langkah-lamgkah kami dalam menegakkan syariat-Mu dan hancurkan seluruh kekuatan mahluk yang menghalang-halanginya”.
 
“Ya Allah, dengarlah jeritan bumi Indonesia ketika dipenuhi oleh penghuninya dengan beragam bentuk kemusyrikan, kedholiman dan kemaksiatan. Telah nampak tanda-tanda keagunganMu terhadap mereka dan telah jelas isyarat-isyarat peringatan-Mu dari kesengsaraan hidup, kemiskinan, wabah penyakit, kekuasaan dholim, dan bencana alam yang tak kunjung henti, tetapi sungguh peringatan-Mu tak berguna bagi kaum yang tak beriman”.
 
“Telah Kau tutup hati kebanyakan mereka dengan syubbhat dan kejahilan hingga mereka melihat kebenaran menjadi suatu kesalahan dan kebathilan nampak sebagai kemakrufan, mereka menilai syariat sebagai belenggu, sedang maksiat sebagai pemandu, akibatnya mereka tunduk dengan musuh-musuhMu, dan memusuhi wali-waliMu, tiada berguna kehidupan yang berdasar dari hal itu. Ya Allah, bukalah pintu hati mereka jika Engkau mengetahui kebaikan dalam hal tersebut atau hancurkan mereka dengan tingkah laku mereka yang hina itu”.
 
“Ya Allah, aku berlepas diri dari segala perbuatan buruk mereka, baik dalam bentuk kemusyrikan, kedholiman, maupun dalam bentuk kemaksiatan”.

 “Ya Allah, binasakan kekuatan musuh-musuh-Mu yang telah dipergunakan untuk menghalangi tegaknya Syariat-Mu, patahkan segala kemampuan dan kekuasaan mereka dan tunjukkan dihadapan kami kekuasaan-Mu atas mereka, serta padamkan api kemurkaan yang berkobar dalam hati kaum Mukminin dengan kebinasaan musuh-musuh mereka”.
 
“Ya Allah, telah kami serukan kepada mereka syariat-Mu disiang dan malam hari, tetapi seruan itu tidaklah menambah mereka kecuali penghinaan dan keberpalingan, Wahai Rabb kami, jangan Kau biarkan seorangpun diantara penghalang Syariat ini hidup di muka bumi-Mu walaupun sekedip mata, sesungguhnya jika Kau biarkan mereka tinggal dan hidup di bumi niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba Mu dan mereka tidak akan melahirkan kecuali keturunan yang dholim lagi kafir”.
 
“Ya Allah, kabulkanlah permohonan kami, jangan Kau hinakan kami dihadapam sekutu-sekutu Iblis, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih lagi Maha Pemurah. Ya Allah, bershalawatlah atas nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabatnya, serta penerus-penerus jejak mereka hingga datangnya hari perhitungan”. Amin.



المراجع
1.       القرآن الكريم
2.       تفسير ابن كثير
3.       تفسير الطبري
4.       نيل الأوطار للشوكاني
5.       تفسير الكريم الرحمن – الشيخ عبد الرحمن بن ناصر السعدي
6.       فتح المجيد – الشيخ عبد الرحمن بن حسن آل الشيخ
7.       تيسير العزيز الحميد – الشيخ سليمان بن عبد الله بن محمد بن عبد الوهاب
8.       عقيدة أهل السنة و الجماعة على ضوء الكتاب و السنة – الدكتور سعيد بن مسفر بن مفرح القحطاني
9.       منهاج المسلم – الشيخ أبو بكر جابر الجزائري
10.   سلسلة رسائل الغرباء – سلمان بن فهد العودة
11.   الجامع في طلب علم الشريف – الشيخ المجاهد عبد القادر بن عبد العزيز
12.   العمدة في إعداد العدة – الشيخ المجاهد عبد القادر بن عبد العزيز

9:53 AM | Posted in , | Read More »

Catatan Dari Penjara Seri 17 : Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah

 
بسم الله الرحمن الرحيم
 
 
 
Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah

Catatan dari penjara seri 17 redaksi menampilkan tulisan ustad Abu Bakar Ba’asyir yang menguraikan tentang bagaimana dinul islam wajib diamalkan secara berjamaah dengan kekuasaan politik yang sistemnya Khilafah khususnya tentang Iman,Hijrah dan Jihad dan cara mengamalkan dan menegakkan Dinul Islam pada Zaman Sekarang.



 
Setelah kita telaah sirah Nabi SAW dan kita ambil pelajaran darinya, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa secara garis besar bimbingan yang diberikan oleh Allah SWT kepada Nabi SAW didalam menyebarluaskan dan menegakkan Dinul Islam yang akhirnya merupakan Sunnah Nabi SAW dalam perjuangan iqomatudien ialah dapat kita simpulkan menjadi 3 langkah saja
 


IMAN - HIJRAH - JIHAD

Keterangan:
1. Yang dimaksud Iman ialah berdakwah untuk membina Tauhid dan Iman ini diamalkan oleh Rasulullah SAW`selama di Mekah selama 13 tahun dan dilanjutkan terus sampai Baginda wafat selanjutnya diteruskan oleh para sahabat dan umat Islam setelah sahabat.

2. Yang dimaksud dengan Hijrah ialah pindah ketempat yang lebih aman untuk menghindarkan diri dari tekanan kaum Musyrikin bagi mereka yang lemah dan pindah secara total kepada tempat yang lebih aman yang kuat pendukungnya yang sudah dipersiapkan untuk dapat terus melaksanakan Ibadah, Dakwah dan pembinaan Iman, sehingga bebas dari penindasan kaum Musyrikin dan dapat meningkatkan perjuangan dengan pembinaan kekuatan senjata. Ini diamalkan oleh sahabat Nabi dengan hijrah ke negeri Habasah atas perintah Nabi bagi sahabat yang dianggap lemah dan diamalkan oleh Nabi SAW dengan seluruh sahabatnya berhijrah ke Madinah atas perintah Allah SWT. Yang selanjutnya disusul oleh semua sahabat-sahabat yang mampu dan baik imannya.

3. Menegakkan Daulah Islamiyah sehingga semua hukum Allah SWT dapat dilaksanakan secara sempurna dan murni.

4. Yang dimaksud dengan Jihad Fisabilillah ialah perjuangan menegakkan Islam dengan cara memerangi orang kafir yang memerangi umat Islam dan dengan cara memerangi orang kafir secara mutlak, sehingga tidak menghalangi Dakwah Islam lagi sehingga orang-orang yang ingin belajar Islam dengan benar dan ingin masuk Islam benar-benar bebas dari halangan, dan dakwah dapat digencarkan dengan bebas. Ini diamalkan oleh Rasulullah SAW setelah berhijrah di Madinah sampai Baginda SAW wafat dan dilanjutkan oleh para sahabatnya dan orang-orang Islam yang hidup sesudah sahabat sehingga Dinul Islam mengalami kejayaan yang menakjubkan berabad- abad.


 
CARA MENDAKWAHKAN DAN MENEGAKKAN DINUL ISLAM PADA ZAMAN SEKARANG

Dinul Islam pada masa sekarang ini sudah lengkap semua panduan dan bimbingan yang terkandung di dalam Al Quranul karim telah sempurna dan Dinul Islam telah diridhoi Allah SWT sebagai satu-satunya Dien bagi manusia.
 
Sebagaimana yang diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
 “... pada hari ini telah Ku sempurnakan untuk kamu agamamu dan Ku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Ku ridhoi Islam itu jadi agama bagimu ...” (Al Maa-idah : 3)
 
Disamping itu keutuhan dan kemurnian Syariat Islam dijaga oleh Allah SWT sehingga bertahan sampai hari kiamat. Tidak akan berubah karena perubahan zaman dan tempat.
 
Seperti yang diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Kami lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Al Hijr : 9)
 
Demikian pula panduan dan bimbingan untuk mendakwah dan menegakkan Dinul Islam juga masih segar sempurna tidak lapuk, maka kewajiban kita adalah memahami perkara itu yang selanjutnya mengamalkan apa yang sudah pernah diamalkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya menurut kemampuan yang ada, sebab Allah SWT memerintahkan agar kita umat Islam mengamalkan semua perintah dan tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya SAW menurut kemampuan.
 
Dalam firman-Nya:
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kemampuanmu ......”. (At Taghaabun : 16)
 
Dan Rasulullah SAW juga bersabda dalam riwayat dibawah ini:
Diriwayatkan dari Abu Huroiroh r.a., beliau berkata: “Telah bersabda Rasulullah SAW: ‘Apabila aku perintahkan kepadamu suatu perintah, laksanakanlah menurut kemampuanmu” (HR Ibnu Majah).
 
Maka kewajiaban kita sekarang harus mengamalkan semua perintah Allah SWT dan meneladani semua Sunnah Nabi SAW dalam persoalan mendakwahkan dan menegakkan Dinul Islam ini menurut kemampuan yang ada, tidak boleh ada yang sengaja ditinggalkan.
 
Maka perintah berdakwah dan bertabligh untuk menerangkan Islam yang murni dan Kaaffah dan memberantas berbagai kemusyrikan harus kita amalkan menurut kemampuan yang ada. Perintah bersabar menghadapi tantangan dan tekanan musuh Islam dikala masih lemah harus kita amalkan menurut kemampuan yang ada, sehingga tidak melawan tekanan musuh dakwah dengan fisik karena emosi.
 
Perintah berjihad di jalan Allah untuk membela diri dan memerangi orang Kafir harus kita usahakan apabila belum mampu, harus kita amalkan i’dat (menyusun kekuatan senjata) menurut kemampuan yang ada.
 
Maka setiap Harakah Islamiyah (gerakan Islam / Ormas Islam) yang bercita-cita mendakwahkan dan menegakkan Dinul Islam harus menyusun program yang meliputi semua perintah Allah tersebut diatas jangan ada yang sengaja ditinggalkan. Yakni jangan sampai hanya menyusun Dakwah dan Tabligh saja sedang I’dat dan Jihad tidak diprogramkan sama sekali. Sebaliknya jangan pula hanya menyusun program I’dat dan Jihad saja sedang Dakwah dan Tabligh tidak diprogramkan sama sekali. Langkah-langkah semacam ini adalah bertentangan dengan Sunnah Nabi SAW dalam menegakkan Dinul Islam. Maka secara lebih ringkas Sunnah Nabi dalam iqomatudin kita rumuskan menjadi:


 
DAKWAH DAN JIHAD

Amalan dakwah dimaksudkan untuk pembinaan Tauhid dan Iman dengan menerangkan aqidah dan Syariat Islam secara murni dan Kaaffah. Sedang amalan Jihad yang melalui proses hijrah dan I’dat dimaksudkan untuk melawan serangan musuh dan menegakkan kembali kekuasaan Islam (Daulah / Khilafah).
 
Maka DAKWAH  dan JIHAD  harus menjadi program setiap Harakah Islamiyah / Ormas Islam yang ingin menegakkan Dinul Islam pada zaman sekarang. Apabila salah satu dari dua hal tersebut diatas sengaja ditinggalkan tidak diusahakan secara proaktif dan diamalkan menurut kemampuan, maka Allah SWT tidak meridhoi dan tidak menerima perjuangan yang tidak sempurna memprogramkan Sunnah Nabi tersebut dan tidak berkenan menolong untuk memberi kemenangan karena langkah ini menyalahi Sunnah Nabi SAW.
 
Termasuk langkah memperjuangkan Islam yang tidak diterima oleh Allah SWT karena menyalahi Sunnah Nabi SAW adalah memperjuangkan Islam dengan sistem Demokrasi. Karena semua itu adalah sistem hidup dan perjuangan yang mennetang kadaulatan Allah SWT untuk menetapkan tatanan dan undang-undang untuk mengatur kehidupan manusia. Oleh karenanya sistem demokrasi adalah bertentangan dengan sunnah nabi SAW.
 
Nabi SAW`bersabda:
“Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak bersumber dari ajaran kami maka perbuatan itu tertolak (tidak sah)” (HR Muslim).
 
Bahkan banyak para ulama terkini pengikut ulama shalat yang antara lain ulama Mujahid, Syeikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz dalam kitab beliau “Al Jami’ Fii Tholabil Ilmii Syarif” menegaskan bahwa memperjuangkan Islam dengan sistem Demokrasi adalah membawa kemurtadan karena demokrasi adalah ajaran syirik karena ia merampas kadaulatan Allah dalam menetapkan undang-undang dan diberikan kepada rakyat, maka siapa yang mengamalkannya menjadi musyrik. Hati-hati.
 
Untuk lebih jelasnya, disini saya kutipkan kesimpulan uraian yang ditulis oleh Syeikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz dalam kitabnya “Al Jami’ Fii Tholabil Ilmii Syarif juz ke XII halaman 211 – 221” tentang Metode Perjuangan Islam, beliau menyimpulkan sebagai berikut:
 
“Saya simpulkan apa yang telah dibahas sebelumnya, saya katakan; ‘Sesungguhnya cara kaum Muslimin dalam merubah pemerintahan Kafir adalah dengan Dakwah dengan berbagai macam bentuknya, setelah memiliki manhaj yang benar dan akidah yang lurus, dibarengi dengan menyatakan kebenaran dengan terang-terangan dan berlepas diri dari orang-orang Kafir dan kekafiran mereka, bukan dengan cara mengikuti kekafiran mereka seperti menyertai mereka dalam pemerintahan Sekuler atau parlemen Syirik, akan tetapi berlepas diri dan memisahkan diri sehingga terjadi pemisahan barisan, dengan bersabar diatas siksaan orang-orang Kafir dan mencari pertolongan dari orang-orang Mukmin sampai terbentuk suatu jamaah yang kuat yang mampu untuk melakukan perubahan dan mampu menjalankan hukum Islam apabila Allah SWT memenangkannya. Dan ini merupakan kewajiban seluruh umat Islam, sedang kewajiban bagi tiap-tiap individu adalah berusaha untuk merealisasikan hal itu sesuai dengan kemampuannya”.
 
Allah SWT berfirman:
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarroh pun niscaya dia akan melihat (balasan) Nya. dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarroh pun niscaya dia akan melihat (balasan) Nya pula”. (Az Zalzalah : 7 -8)
 
Dan wajib untuk menjadikan kekhususan setiap negara dan kekhususan penduduknya sebagai bahan pertimbangan dan hendaknya setiap permasalahan itu diserahkan kepada ahlinya.

9:40 AM | Posted in , | Read More »

Catatan Dari Penjara Seri 16 :Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah

بسم الله الرحمن الرحيم

Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah

 

Catatan dari penjara seri 16 redaksi menampilkan tulisan ustad Abu Bakar Ba’asyir yang menguraikan tentang bagaimana dinul islam wajib diamalkan secara berjamaah dengan kekuasaan politik yang sistemnya Khilafah khususnya tentang sunnah Nabi SAW dalam mendakwahkan dan menegakkan dinul Islam melalui langkah yang kedua dan ketiga yaitu berhijrah dan menyusun kekuatan dan berdakwah dan berjihad dijalan Allah SWT .

Selamat Menyimak


B. Langkah Kedua
Berhijrah dan menyusun kekuatan.


Tekanan dan gangguan kaum Musyrikin dalam menghadapi Dakwah Tauhid ini semakin hari semakin menjadi-jadi, bukannya berkurang, namun meskipun demikian Rasulullah SAW sama sekali tidak mengendurkan dan melemahkan dakwahnya, bahkan Baginda SAW tetap bersemangat di dalam berdakwah dan memberantas kesyirikan tanpa bertoleransi sedikitpun. Sehingga pernah ditawarkan kepada Rasulullah SAW kedudukan dan kekayaan asal Beliau bersedia menghentikan Dakwah Tauhid ini, tawaran itu ditolaknya dengan tegas dan Baginda Rasulullah SAW bertekad terus melancarkan Dakwah dan menyerang kemusyrikan, maka makin keraslah tekanan terhadap Beliau dan para pengikutnya. Ketika tantangan dan tekanan makin kuat, sedang pengikutnya masih lemah maka Baginda SAW memerintahkan sebagian sahabatnya untuk berhijrah ke negeri Habash sedang Beliau SAW dan beberapa sahabatnya yang masih kuat terus giat melancarkan Dakwah tanpa sedikitpun bertoleransi dengan kemusyrikan.

Ketika tantangan dan tekanan mencapai puncaknya, yakni sampai kepada usaha untuk membunuh Nabi SAW, maka Allah SWT memerintahkan Baginda SAW untuk berhijrah ke Madinah dan Bagindapun melaksanakan perintah itu dengan baik. Disamping itu juga Rasulullah SAW memerintahkan sahabatnya agar semuanya berhijrah ke Madinah kecuali yang lemah dan tidak ada kemampuan.

Hijrah ke Madinah ini hukumnya wajib, karena ia dapat menyatukan tenaga dan menyusun kekuatan fisik untuk bergabung dalam pasukan Mujahidin dalam rangka menghadapi tekanan kaum Musyrikin apabila sudah ada izin dari Allah nanti.

Mereka yang tidak bersedia berhijrah bukan karena lemah tetapi hanya karena pertimbangan kekayaan dunia, akhirnya benar-benar dipaksa untuk bergabung kedalam pasukan kaum Musyrikin untuk memerangi kaum Muslimin di perang Badar dan diantara mereka ada yang terbunuh dan dinyatakan oleh Allah SWT sebagai orang yang menganiaya dirinya dan tempatnya kelak di neraka.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri (kepada mereka) malaikat bertanya: ‘Dalam keadaan bagaimana kamu ini?’. Mereka menjawab: ‘Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri Mekah’. Para malaikat berkata: ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?’. Orang-orang itu tempatnya neraka jahanam dan jahanam itu seburuk-buruknya tempat kembali” (An Nisaa’ : 97)

Setelah Rasulullah SAW sampai di Madinah, langkah-langkah yang dilakukan ialah:

o    Mendirikan masjid sebagai tempat ibadah dan markas pentakbiran / pengurusan iqomatudin (perjuangan menegakkan Islam).

o    Memperkuat Ukhuwah Islamiyah antara kaum Muhajirin dan Anshor.

o    Mendirikan Daulah Islamiyah meskipun rakyatnya terdiri dari berbagai kaum dan kepercayaan (pluralitas). Baginda SAW memegang pimpinan negara tertinggi sedang Syariat Islam sebagai hukum positifnya.

Menyusun kekuatan senjata sesuai dengan perintah Allah SWT dalam firman-Nya:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan)”. (Al Anfaal : 60)

Dalam pelaksanaan Iqomatun Dien ini, kaum Muhajirin dan kaum Ansor adalah merupakan kader inti yang banyak berkorban. Kaum Muhajirin telah berkorban dengan berhijrah meninggalkan kampung halaman dan harta mereka, sedang kaum Ansor penduduk asli Madinah telah berkorban pula menyediakan tempat tinggal dan memberi pertolongan kepada saudara mereka kaum Muhajirin. Mereka inilah soko gurunya kaum Muslimin yang amat berjasa menegakkan Dinul Islam dengan melaksanakan Dakwah dan Jihad di jalan Allah dengan penuh semangat dan keihlasan dan penuh pengorbanan. Oleh karena itu Allah menyatakan bahwa mereka benar-benar Mukmin sejati dan sebagai penolong Dinullah.

Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dan orang-orang yang memberi tempat kediaman dan memberi petolongan (kepada orang orang muhajirin) mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki (nikmat) yang mulia”. (Al Anfaal : 74)


Dan fiman-Nya lagi:

“Bagi para Fuqoroh yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridhoan Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul Nya, mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (yakni kaum ansor) sebelum kedatangan mereka (yakni kaum muhajirin), mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (yakni kaum muhajirin) dan mereka (yakni kaum ansor) mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang diperlihara dari kekikiran dirinya mereka itulah orang-orang yang beruntung”. (Al Hasyr : 8 dan 9)


Oleh karena itu Allah SWT meridhoi kaum Muhajirin dan kaum Ansor dan orang-orang berIman setelah mereka yang mengikuti jejak langkah mereka. Allah SWT menerangkan hal ini dalam firman-Nya:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama masuk Islam diantara orang-orang muhajirin dan ansor dan orang-orang yang mengikut mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar” (At Taubah : 100)

C. Langkah Ketiga
Berdakwah dan berjihad di jalan Allah


Setelah kekuatan senjata tersusun maka Allah SWT membolehkan berjihad untuk membela diri karena di dholimi.

Allah SWT berfirman:

“Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. Yaitu orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: ‘Tuhan kami hanyalah Allah’. Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah di robohkan biara-biara nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang yahudi dan masjid-masjid yang didalamnya banyak disebut nama Allah. Sesunguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agamanya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa’. (Al Hajj: 39, 40)

Selanjutnya setelah kaum Muslimin makin kokoh kedudukannya, Allah SWT mengizinkan memerangi orang Kafir secara mutlak sampai mereka menyerah tidak berani lagi menghalangi Dakwah Islamiyah dan membayar jisiyah atau masuk Islam.

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), yaitu orang-orang yang diberikan alkitab kepada mereka, sampai mereka membayar jisyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (At Taubah : 29)

Firman-Nya lagi:
“Dan perangilah mereka supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti dari kekafiran, maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan” (Al Anfaal : 39)

Selama Baginda SAW di Madinah selama sepuluh tahun Baginda SAW mengobarkan semangat Jihad dan mengamalkan Jihad lebih kurang 80 kali dan yang Baginda SAW pimpin sendiri lebih kurang 27 kali.

Hal ini sesuai dengan perintah Allah SWT dalam firman-Nya:
“Hai nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, maka mereka dapat mengalahkan seribu dari pada orang-orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. (Al Anfaal : 65)

Dan firman-Nya lagi:

“Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksa Nya”. (An Nisaa’ : 84)


Sejak itu perkembangan Dinul Islam mengalami kemajuan yang amat pesat, bahkan akhirnya markas pusat kaum Musyrikin yakni kota Mekah dapat ditaklukkan dan berhala-berhala sesembahan kaum Musyrikin berhasil ditumbangkan dan dibersihkan dari Ka’bah dan dari seluruh kota, maka tegaklah bendera Tauhid dan hancurlah Kemusyrikan. Kebenaran berdiri tegak kebathilan hancur musnah.


Allah SWT berfirman:
“Dan katakanlah yang benar telah datang dan yang bathil telah lenyap. Sesungguhnya yang bathil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap” (Al Israa’ : 81)


Dan firman Nya lagi:
“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang bathil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tak layak bagi Nya)” (Al Anbiyaa’ : 18)

Maka kenyatan ini menunjukkan bahwa benar-benar Allah SWT telah menjadikan kalimat orang kafir rendah dan kalimat Allah SWT tinggi tiada yang berani mengatasi, Allahu Akbar.

Allah SWT berfirman:
“ ... dan Allah menjadikan seruan-seruan orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (At Taubah : 40)

Ketika Nabi SAW wafat, hampir seluruh jazirah Arab takluk dibawah kekuasaan Islam yang dipimpin oleh Nabi SAW. Selanjutnya Sunnah Nabi SAW dalam mengembangkan dan menegakkan Dinul Islam ini diikuti oleh para sahabatnya yang meneruskan Risalah Nabi, yakni Dakwah dan Jihad, sehingga Islam berjaya menjadi penguasa dunia yang besar dan tersebar luaslah keadilan, kemakmuran dan ketenteraman selama berabad-abad lamanya, maka terbuktilah bahwa diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah merupakan rahmat bagi alam semesta.

Allah SWT berfirman:

“Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (Al Anbiyaa’ : 107)

Maka dari sirah Nabi SAW yang telah diterangkan secara ringkas itu tadi, kita dapat mengambil pelajaran penting bagaimana cara untuk memperjuangkan Dinul Islam yang garis besarnya adalah sebagai berikut:

i. Bahwa dalam medakwahkan dan menegakkan Dinul Islam Rasulullah SAW tidak bertindak mengikuti kemauannya sendiri tetapi selalu menunggu bimbingan wahyu dari Allah SWT dan wahyu tersebut benar-benar ditaati dengan sempurna.

ii.  Bimbingan wahyu itu ialah:
  • Perintah berdakwah baik secara rahasia maupun secara terang-terangan.
  • Perintah terus berdakwah menegakkan Tauhid memberantas kemusryikan dan tidak boleh toleransi dengan kemusyrikan meskipun dalam posisi yang sempit dan sulit.
  • Perintah bersabar dalam menghadapi tantangan dan tekanan kaum Musyrikin dan tidak boleh melawan mereka dengan fisik.
  • Perintah berhijrah ke Madinah ketika tekanan sudah mencapai taraf memuncak yakni Perintah berI’dat (membuat persiapan) untuk menyusun kekuatan senjata.
  • Perintah berjihad untuk menghadapi tekanan kaum Musyrikin apabila kekuatan senjata sudah dianggap cukup dan selanjutnya perintah mengobarkan Jihad untuk melawan orang-orang Kafir sampai mereka masuk Islam atau tunduk menyerah sehingga tidak berani mengganggu Dakwah dan membayar jisyah.
Inilah petunjuk dan bimbingan Allah SWT kepada Nabi SAW di dalam usaha berjuang menyebarluaskan dan menegakkan Islam, amalan nabi ini adalah menjadi Sunnahnya yang harus diikuti oleh umat Islam yang ingin berjuang menyebarluaskan dan menegakkan Islam.


9:23 AM | Posted in , | Read More »

Catatan Dari Penjara Seri 15 : Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah

Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah



Catatan dari penjara seri 15 redaksi menampilkan tulisan ustad Abu Bakar Ba’asyir yang menguraikan tentang bagaimana dinul islam wajib diamalkan secara berjamaah dengan kekuasaan politik yang sistemnya Khilafah khususnya tentang sunnah Nabi SAW dalam mendakwahkan dan menegakkan dinul Islam melalui langkah yang pertama yaitu berdakwah dan bertabligh.

Selamat Menyimak (from : saveabb.com/red)




SUNNAH NABI SAW DALAM MENDAKWAHKAN DAN MENEGAKKAN DINUL ISLAM

Kalau kita teliti kembali sejarah perjuangan Nabi Muhammad SAW sejak mulai diangkat jadi nabi sampai wafat Beliau, maka akan kita temui bahwa Rasulullah SAW dalam usahanya untuk mendakwahkan dan menegakkan Dinul Islam selalu terpimpin oleh wahyu Allah SWT dengan melalui langkah-langkah seperti yang tersebut dibawah ini:

A.  Langkah Pertama
Berdakwah dan bertabligh dengan bersenjatakan kesabaran dan keteguhan. 

Setelah turunnya perintah Allah SWT dalam firman-Nya: 
  
“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut) bangunlah lalu berilah peringatan” (Al Muddatstsir 1,2)


Maka bangkitlah Baginda SAW memulai menjalankan tugasnya dengan berdakwah dan bertabligh secara rahasia. Adapun tabiat dakwah dan tabligh beliau adalah: 

? Materi dakwahnya menegakkan tauhid dan memberantas kemusryikan. Dalam rangka menunaikan dakwah ini Rasululah SAW sama sekali tidak mau bertoleransi dengan kemusyrikan, meskipun nampaknya bertoleransi menguntungkan bahwa meskipun situasinya sangat terjepit, karena Allah SWT mengarahkan Baginda SAW untuk berbuat tegas tanpa kompromi sedikitpun. 

Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
“Dan sesungguhnya mereka hampir memalingkan kamu dari apa yang Kami wahyukan kepadamu, agar kamu membuat yang lain secara bohong terhadap Kami; dan kalau sudah begitu tentulah mereka mengambil kamu jadi sahabat yang setia. Dan kalau Kami tidak memperkuat hatimu, niscaya kamu hampir-hampir condong sedikit kepada mereka. Kalau terjadi demikian benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu siksaan berlipat ganda di dunia ini dan begitu pula siksaan berlipat sesudah mati dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap Kami” (Al Israa’ : 73,74,75)


Keterangan:
Ayat tersebut diatas menerangkan dengan jelas bahwasanya Nabi Muhammad SAW ketika condong untuk menerima ajakan orang musyrik untuk bertoleransi dengan kemusyrikan diingatkan keras oleh Allah SWT sehingga beliau tetap berada di garis Tauhid. 

Bahkan kalau sampai Baginda SAW condong menerima ajakan toleransi orang musryik meskipun hanya sedikit diancam kesengsaraan berlipat ganda hidup dan setelah mati. Dalam ayat yang lain Allah SWT menerangkan bahwa strategi orang musryik dalam menghadapi Dakwah Tauhid ialah berusaha melunakkan dakwah tauhid tersebut sehingga bersedia bertoleransi dan kerjasama dengan kemusyrikan, kalau sudah demikian mereka akan bersikap lunak juga dan bersedia berkawan akrab. 

Hal ini diterangkan Allah SWT dalam firman-Nya:
“Maka janganlah kamu ikuti orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Allah. Maka mereka menginginkan supaya kamu bersikap lunak lalu mereka bersikap lunak pula kepadamu” (Al Qalam : 8 dan 9)


Keterangan:
Ayat tersebut diatas menerangkan bahwa Nabi SAW dilarang mentaati ajakan orang-orang pendusta (Kafir dan Musyrik) dan mereka menghendaki agar Beliau SAW melunak sedikit, dan merekapun akan melunak. Sikap melunak di dalam menentang kemusyrikan inilah yang dilarang oleh Allah SWT maka Allah SWT memerintahkan agar Nabi SAW tetap teguh berpegang kepada Tauhid dan berlepas diri dari kemusyrikan. 

Allah SWT berfirman:
”Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan menyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah pula menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku” (Al Kaafiruun : 1 – 6)


Dan firman-Nya lagi:
“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah bagiku amalku dan bagimu amalmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku amalkan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu amalkan” (Yuunus :41)


Keterangan:
Inilah ayat-ayat yang menerangkan bahwa di dalam mendakwahkan Tauhid tidak boleh ada kompromi sedikitpun dengan kemusyrikan.



Dalam berdakwah dan bertabligh Nabi SAW banyak berdzikir dan mengagungkan Allah SWT semata-mata dan semua dakwahnya semata-mata ditujukan untuk mencari ridho Allah SWT, dan beliau selalu membersihkan hati dan akhlaq menjauhi kejahatan dan selalu bersikap dermawan. Sikap ini membuahkan keberanian dalam menerangkan Aqidah (tauhid), tidak takut ancaman manusia karena yang dibesarkan hanya Allah SWT, selain Allah SWT semua kecil dan selalu bergantung kepada Allah karena selain Allah tidak ada yang dapat memberi manfaat atau menolak mudharot.

Allah SWT berfirman:
“Dan Tuhanmu agungkanlah dan pakaianmu bersihkanlah dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah dan janganlah kamu memberi dengan maksud memperoleh balasan yang lebih banyak. Dan untuk memenuhi perintah Tuhanmu bersabarlah” (Al Muddatstsir : 3 – 7)



Di dalam berdakwah menyampaikan Tauhid, Nabi SAW selalu bersabar menghadapi segala rintangan dan kesulitan yang menimpanya. Karena Allah SWT memang memerintahkan untuk selalu bersabar. 

Allah SWT berfiman:
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku saja bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar”. (Al Muzzammil : 10, 11)

Yang dimaksud sabar ialah mesti memenuhi tiga sikap yaitu:

• Tidak lemah dan menjadi pengecut karena musibah yang menimpanya di jalan Allah bahkan dia tetap mempunyai keberanian melawan kemusyrikan dengan pertolongan Allah SWT.
• Tidak lesu kehilangan semangat karena musibah itu, sebaliknya ia tetap bersemangat tinggi meskipun posisinya terjepit, karena harapannya hanya kepada pertolongan Allah SWT.
• Pantang menyerah kepada musuh. Kalau berjihad tidak akan menyerah dengan menyerahkan senjata pilihannya hanya dua, menang atau terbunuh di jalan Allah. Kalau berdakwah tidak akan melepaskan kebenaran meskipun dalam posisi terjepit, bahkan kebenaran tetap disampaikan apa adanya tidak dirubah-rubah maknanya karena mengharapkan belas kasih musuh. Dia berdoa kepada Allah SWT mohon diampuni segala tindakannya yang berlebih-lebihan mohon ditetapkan pendiriannya jangan berubah-rubah karena takut kepada manusia atau mengharap dunia dan mohon pertolongan dalam melawan orang-orang kafir. 

Karakterisitk Da’i / Mujahid semacan ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikutnya yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar. Tidak ada doa mereka selain ucapan: ‘Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urursan kami dan tetapkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir” (Ali Imraan : 146 - 147)

Agar ada kemampuan untuk bersabar dan memikul beban dakwah Tauhid ini, maka Nabi SAW diperintahkan untuk mendirikan shalat Tahajjud. 

Perintah tersebut tercantum dalam firman Allah SWT di bawah ini:
“Hai orang-orang yang berselimut (Muhammad SAW), bangunlah untuk shalat di malam hari, kecuali sedikit dari padanya, yaitu seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusu’ dan bacaan di waktu itu lebih berkesan. Sesungguhnya kamu pada siang hari mempunyai urusan yang panjang (banyak). Sebutlah nama Tuhanmu dan beribadatlah kepada Nya dengan penuh ketekunan”. (Al Muzzammil : 1 - 8)

Setelah berdakwah secara rahasia beberapa tahun, maka Allah SWT selanjutnya memerintahkan agar Baginda SAW berdakwah secara terang-terangan dan tetap tidak boleh bertoleransi dengan kemusyrikan. 

Allah SWT berfirman:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang–orang yang musyrik” (Al Hijr : 94)

Di dalam berdakwah terutama dakwah secara terang-terangan ini, pertama kali yang diperintahkan oleh Allah SWT adalah agar Beliau mendakwahi sanak-kerabatnya terlebih dahulu. 

Allah SWT berfirman:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat” (Asy Syu’araa’ : 214)

Maka untuk melaksanakan perintah tersebut, Baginda Rasulullah SAW mengumpulkan kerabatnya yang terdekat menyampaikan keRasulan diri Baginda dan memberi peringatan kepada mereka agar mereka berIman kepada Allah SWT, karena Baginda tidak dapat menolong mereka dari azab Allah SWT jika mereka tetap durhaka kepada Allah SWT. 

Dalam Dakwahnya kepada sanak keluarganya Baginda SAW bersabda: “Wahai kaum Quraisy belilah / tebuslah dirimu dari Allah dengan beriman dan beramal saleh serta meninggalkan kemusyrikan, sesungguhnya saya tidak dapat menolong kamu sekalian dari siksa Allah sedikitpun. Wahai Bani Abdul Mutthalib! Sesungguhnya saya tidak bisa menolong kamu sekalian dari azab Allah sedikitpun. Wahai Bani Abbas! Saya tidak dapat menolong anda sedikitpun dari azab Allah SWT. Wahai Sofiah! Bibi Rasulullah! Saya tidak dapat menolong anda sedikitpun dari azab Allah SWT. Wahai Fatimah binti Muhammad! Mintalah apa yang kamu mau dari hartaku, aku tidak dapat menolongmu sedikitpun dari sisi Allah”. (HR Riwayat Muslim).

Ketika Dakwah ini mulai dilancarkan secara terang-terangan tantanganpun mulai bermunculan, terutama justru tantangan itu datang dari paman Beliau sendiri yaitu Abu Lahab. Namun demikian Dakwah terus dilancarkan tanpa mengindahkan tantangan dan bantahan orang-orang Musyrik baik dari kaumnya sendiri atau dari sanak saudaranya. 

Setiap musim Haji, Rasulullah SAW selalu menggunakan kesempatan ini untuk berdakwah menyeru Kabilah-Kabilah yang datang dari luar kota Mekah. 

Oleh karena Dakwah yang dilancarkan oleh Rasululah SAW menyeru Dua Kalimat Syahadat dan memberantas kemusyrikan yang sudah mendarah-daging di kalangan bangsa Arab sejak ratusan tahun, maka mereka pada umumnya sangat berat menerima Dakwah Tauhid ini kecuali mereka yang mendapat rahmat Allah SWT yang mau menjawab seruan Rasulullah SAW ini dan mereka ini amat sedikit. 

Beratnya orang Musyrik menerima dakwah Tauhid ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman Nya:

“... amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang-orang yang dikehendakinya dan memberi petunjuk kepada agama Nya orang-orang yang kembali kepadanya”. (Asy Syuuraa : 13)

Adapun diantara bentuk tantangan orang-orang musyrik terhadap dakwah Rasulullah SAW adalah digambarkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:

“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan (seorang Rasul) dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata: ‘Ini adalah seorang ahi sihir yang banyak berdusta. Mengapa ia menjadikan ilah-ilah itu ilah yang satu saja? Sesunguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan’. Dan pergilah pemimpin-pemimpin mereka seraya berkata: ‘Pergilah kamu dan tetaplah menyembah ilah-ilahmu, sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang dikehendaki. Kami tidak pernah mendengar hal ini dalam agama yang terakhir ini (mengesakan Allah) tidak lain hanyalah dusta yang diada-adakan”. (Shaad: 4-7) 

Namun meskipun tantangan begitu kerasnya Nabi SAW tidak berputus asa dan tidak lemah semangatnya dan tantangan-tantangan itu dihadapi terus dengan kesabaran, memberi nasehat yang baik dan bijaksana.

Sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah SWT:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesunguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dia lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl : 125)

Dakwah Rasulullah SAW adalah melanjutkan dakwah para Rasul-Rasul sebelumnya yang intinya sama, yaitu mengajak manusia agar beribadah hanya kepada Allah SWT saja dan mengajak manusia agar menjauhi thoghut. 

Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Dan sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat utuk menyerukan: ‘Beribadahlah kepada Allah saja dan jauhilah thoghut ...” (An Nahl : 36)

Dalam menghadapi tantangan berat yang datang dari kaum musyrikin, Allah SWT memerintahkan agar Nabi SAW tetap teguh berpegang kepada tauhid dan berlepas diri dari kemusyrikan. 


Hal ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Katakanlah: ‘Hai orang-orang kafir aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pula pernah menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”. (Al Kaafiruun : 1-6)

Dan firman-Nya lagi:
“Jika mereka mendustakan kamu, maka katakanlah: ‘Bagiku amalanku dan bagimu amalanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku amalkan dan aku berlepas diri terhadap apa yang kamu amalkan”. (Yuunus : 41)

Dan firman-Nya lagi:
“Maka berpegang teguhlah kamu kepada agama yang telah diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya kamu berada diatas jalan yang lurus. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar adalah suatu kemuliaan besar bagimu dan bagi kaummu dan kelak kamu akan diminta pertangggungan jawab”. (Az Zukhruf : 43-44)

Dampak dari dakwah Tauhid yang pantang bertoleransi dengan kemusyrikan ini Baginda SAW dan para pengikutnya menghadapi rintangan dan tekanan berat dari kaum Musyrikin baik dalam bentuk ucapan kotor yakni, dituduh gila, tukang sihir, pembohong, atau dalam bentuk perbuatan keji, yakni Baginda SAW dilempar kotoran unta, diwaktu sedang menunaikan Shalat dicekik lehernya, dipencilkan (diembargo sampai kelaparan) dan lain-lain perbuatan keji. Para pengikutnya juga tidak lepas dari ujian dakwah ini terutama mereka yang lemah kedudukan sosialnya (para hamba sahaya) disiksa diluar batas kemanusiaan seperti Bilal bin Robah r.a., Amar bin Yasir r.a., bahkan ada diantara mereka yang disiksa sampai mati seperti ayah dan ibu Amar bin Yasir. r.a. 

Gangguan ini diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Dan ingatlah ketika orang-orang kafir Qiraisy memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu, atau membunuhmu atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. (Al Anfaal : 30)

Dalam menghadapi tantangan dan tekanan berat kaum Musyrikin ini Allah SWT hanya memerintahkan kepada Rasulullah SAW dan pengikutnya agar tetap bersabar, berlapang dada, memaafkan dan menahan tangan jangan sampai membalas dengan fisik.

Allah SWT berfirman:
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik. Dan biarkanlah Aku saja bertindak terhadap orang-orang yang mendustakan itu, orang-orang yang mempunyai kemewahan dan beri tangguhlah mereka barang sebentar” (Al Muzzammil : 10-11)

Dan firman-Nya lagi:
“Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil) sedang kami memandangnya dekat (pasti terjadi)”. (Al Ma’arij: 5,6,7)

Dan firman-Nya lagi:
 “..... tahanlah tanganmu (dari berperang) dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat .....  ”. (An Nisaa’ : 77)

Keterangan:
Itulah beberapa ayat Al Quran yang memerintahkan Rasulullah SAW dan para pengikutnya agar tetap sabar dan berlapang dada dalam menghadapi tekanan dan tantangan dan tekanan kaum Musyrikin dalam dakwah Beliau di Mekah. 

Maka berkat bimbingan Allah SWT ini para Rasul termasuk Rasulullah SAW mampu bersikap sabar dan tawakal.

Seperti yang diterangkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
“Mengapa kami tidak akan bertawakal kepada Allah padahal Dia telah menunjukkan jalan kepada kami, dan kami sungguh-sungguh akan bersabar terhadap gangguan-gangguan yang kamu lakukan kepada kami. Dan hanya kepada Allah saja, orang-orang yang bertawakal itu berserah diri”. (Ibraahim : 12)


Bentuk-bentuk kemusyrikan yang harus diberantas di dalam melaksanakan dakah menegakkan tauhid ialah:

a)  Kemusyrikan yang berupa benda-benda mati yang disembah: patung, kuburan yang dikeramatkan, benda-benda yang dianggap keramat seperti keris, batu akik, besi kuning dan lain-lain.

b)  Kemusyrikan yang berupa makhluq hidup yang disembah seperti dukun-dukun yang mengaku mengakui barang ghaib, para normal, ulama’-ulama’ yang berfatwa manghalalkan hal yang diharamkan oleh Allah dan sebaliknya dan lain-lain.
c)  Kemusyrikan ideologi / ajaran buatan manusia yang jelas-jelas bertentangan dengan syariat Islam seperti demokrasi, nasionalis, sosialis, sekuler, liberal dan lain-lain.

d)  Kemusyrikan yang berupa pemerintahan / negara yang menolak Islam sebagai dasar negara dan menolak syariat Islam sebagai hukum positifnya.

10:11 PM | Posted in , | Read More »

Catatan Dari Penjara Seri 14 : Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah

 بسم الله الرحمن الرحيم


Dinul Islam Wajib Diamalkan Secara Berjamaah Dengan Kekuasaan Politik Yang Sistemnya Khilafah


Catatan dari penjara seri 14 redaksi menampilkan tulisan ustad Abu Bakar Ba’asyir yang menguraikan tentang bagaimana dinul islam wajib diamalkan secara berjamaah dengan kekuasaan politik yang sistemnya Khilafah khususnya tentang bagaimana bahayanya berada dalam negara sekuler dan cara mendakwahkan dan menegakkan dinul Islam.

Selamat Menyimak (from : saveabb.com/red)


NEGARA SEKULER ADALAH FITNAH YANG SANGAT BERBAHAYA DAN HARAM HUKUMNYA

Negara Sekuler adalah bentuk negara di luar khilafah yang direkayasa oleh kaum Kafir Zionis Yahudi untuk mengotori Akidah dan hati Umat Islam dan untuk menghancurkan Syariat Islam dari sumber kebangkitannya, yakni Al Quran dan Sunnah.

Dengan sistem pemerintahan Sekuler yang terkutuk ini musuh-musuh Allah berusaha menjauhkan Umat Islam sedikit demi sedikit dari Al Quran dan Sunnah dan menghancurkan Akidah dan Syariah serta memporak-porandakannya sehingga akhirnya dapat dihancurkan sama sekali, inilah peranan negara Sekuler.

Untuk lebih jelasnya disini saya kutipkan keterangan seorang Ulama dan Ilmuwan Muslim Kontemporer DR. Safar Al-Hawali dalam kitab beliau yang berjudul: ILMANIYAH beliau menerangkan sebagai berikut pada halaman 697, “Diantara Syubhatnya adalah susahnya sebagian orang untuk mengatakan Kafir atau Jahiliah terhadap apa yang Allah nyatakan Kafir dan Jahilliah seperti sistem-sistem keadaan-keadaan dan personal-personal dengan alasan bahwa sistem-sistem ini (terutama Sekuler Demokrasi) tidak mengingkari keberadaan Allah, tidak menghalangi untuk melaksanakan beberapa Syiar-Syiar peribadahan (seperti shalat, puasa, zakat, haji, nikah dan lain-lain), sebagian personal sistem-sistem tersebut mengucapkan Syahadat, melaksanakan shalat, puasa, haji dan sedekah serta menghormati orang yang taat beragama dan yayasan keagamaan ... bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Sekulerisme adalah sistem Jahiliyah dan orang-orang yang mempercayainya adalah orang yang jahiliah?

Dan sangat jelas sekali bahwa orang yang terjerumus kedalam Syubhat ini (yang berkeyakinan bahwa Sekulerisme dan Demokrasi bukan Jahiliah) tidak mengetahui makna Laa Ilaha Ilallah dan juga tidak mengakui hakekat Islam dan hal ini jika Husnu dzon (berbaik sangka) terhadap mereka. Padahal hal semacam ini tidak boleh terjadi pada kebanyakan orang intelek yang beralasan dengan alasan semacam ini. (Dan beliau juga mengatakan pada halaman 692 dan  693): “Dan kita layak untuk memperhatikan sejenak terhadap perkataan Syhaikul Islam bahwa murtad dari syariat agama adalah lebih besar dari keluarnya orang Kafir asli darinya.

Kemudian kita katakan bahwa para pembuat rencana dari kalangan Yahudi Salibis sebagaimana dalam wasiat Zuimar yang telah lalu, pembuat rencana tersebut telah putus asa untuk mengeluarkan umat Islam dari pokok agama mereka ke aliran-aliran Atheis dan Materialist. Maka mereka mengandalkan – setelah berfikir dan merenung – cara yang lebih kotor dan bahaya yaitu mereka membuat pemerintahan-pemerintahan yang menjalankan hukum dengan selain hukum Allah, dan dalam waktu yang bersamaan pemerintahan itu mengaku Islam dan menampakkan penghormatannya terhadap akidah. Maka merekapun membunuh indera rakyat mereka rebut Wala’ nya (kesetiaannya kepada Allah ) dan mereka kotori hatinya.

Kemudian mereka menghancurkan Syariat-Syariat Allah dari sumber kebangkitannya. Oleh karena itu mereka tidak berani mengatakan dengan tegas bahwa para pemerintah itu orang-orang Atheis atau Sekuler ketika mereka menyatakan dan berbangga mengatakan bahwa mereka itu orang-orang Demokrat misalnya. (Dikutip dari kitab Al Ilmaniyah terbitan Umul Quro’ 1402 H).

Demikianlah keterangan DR. Syheik Safar Hawali yang pada pokoknya menjelaskan bahwa pemerintahan Sekuler adalah rekayasa musuh Allah, Zionis Salibis, dalam rangka menghancurkan Akidah dan Syariah kaum Muslimin dengan cara halus dan pura-pura menghormati kemerdekaan agama seperti umpamanya dengan mendirikan Departemen Agama dalam pemerintahan dan memberi kesempatan untuk mengamalkan ibadah mahdhoh (ritual) dan mengadakan upacara-upacara peringatan apa yang mereka sebut hari-hari besar Islam seperti Maulud Nabi, Isra Mi’raj, Nuzulul Qur’an, Tahun Baru Hijriah dan lain-lain untuk menggambar seolah-olah pemerintah Sekuler itu menghormati dan memberi kebebasan Syariat Islam padahal hakekat yang sebenarnya itu merupakan bius yang tidak dirasakan oleh Umat Islam sehingga secara sedikit demi sedikit hancurlah Akidah dan Syariat Dien mereka.

Maka sekali lagi kita wajib waspada dan  kita wajib yakin bahwa satu-satunya sistem negara yang dapat menyelamatkan Islam dan Umat Islam hanyalah sistem Khilafah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan diikuti oleh para sahabatnya terutama Khulafa Urrosyidin. Maka dengan demikian kita wajib menentukan sikap bahwa persoalan bentuk pemerintahan dan negara bagi kita Umat Islam, hanyalah Khilafah tidak ada tawar menawar lagi. Apabila kita, Umat Islam, menolak memperjuangkan berdirinya kembali Khilafah dan masih mau menerima bertoleransi dengan ajaran kafir Demokrasi dan bentuk negara Kafir Sekuler maka lonceng kematian Islam dan Umat Islam akan segera berbunyi, Na’uzu bilah mindzalik.


Kesimpulan:
1.Dinul Islam wajib diamalkan secara berjamaah yakni berkhilafah bukan diamalkan dengan sistem negara demokrasi dan kebangsaan, dan bukan pula diamalkan secara perorangan atau golongan.

2. Bila Khilafah tidak diperjuangkan wujudnya oleh umat Islam maka akibatnya :
a.  Syariat dan hukum Islam tidak mungkin dapat diamalkan secara Kaaffah akibatnya umat Islam akan hidup di dalam kehinaan dan kelemahan.
b.  Aqidah, Syariat dan hukum Islam tidak akan dapat diamalkan secara bersih akibatnya ibadah dan mu’amalah umat Islam bercampur baur dengan kebathilan.
c.  Syariat dan hukum Islam akan terkikis satu persatu sampai habis.
d.  Berjuang untuk mewujudkan Daulah Islamiyah / Khilafah hukumnya wajib.
e.  Orang Islam apalagi orang Kafir yang menghalangi perjuangan untuk mewujudkan Daulah Islamiyah / Khilafah boleh diperangi karena dengan sikapnya itu berarti ia menghalangi tegaknya Dinul Islam.


CARA MENDAKWAHKAN DAN MENEGAKKAN DINUL ISLAM
Mendakwahkan dan menegakkan Dinul Islam adalah diwajibkan atas umat Islam. Allah SWT memerintahkan Rasul-Nya agar mendakwahkan Dinul Islam dan selanjutnya menegakkannya dengan cara Dakwah dan Jihad. Adapun perintah berdakwah / bertabligh dapat kita jumpai dalam firman Allah SWT sebagai berikut:
  
“Hai orang-orang yang berkemul (berselimut), bangunlah lalu berilah peringatan” (Al Muddatsir : 1 dan 2)

Firman-Nya lagi:
“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat, rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu yaitu orang-orang yang berIman. Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah; ‘Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan’. (Asy Syu’araa : 214, 215, 216)

Dan firman Nya lagi:
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan Nya dan Dia lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl : 125)

Dan firman-Nya lagi:
“Hai Rasul, sampaikan apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat Nya. Allah memelihara kamu dari gangguan manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunujuk kepada orang-orang yang kafir”. (Al Maa-idah : 67)

Firman-Nya lagi:
“Maka sampaikanlah secara terang-terangan olehmu segala apa yang diperintahkan kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (Al Hijr : 94)

Itulah beberapa ayat Al Quran yang memerintahkan umat Islam agar mendakwahkan dan menyebarluaskan Dinul Islam di kalangan umat manusia.
Adapun perintah untuk menegakkan Dinul Islam dan perintah berjihad untuk kepentingan menegakkannya adalah sebagai berikut:

Firman Allah SWT:
“.....Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya ...” (As Syuuraa : 13)

Dan firman-Nya lagi:
“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti dari kekafiran, maka sesunguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan” (An Anfaal : 39)

Dan firman-Nya lagi:
“Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak pula pada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah) yaitu orang-orang yang diberikan alkitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (At Taubah : 29)

Dan firman-Nya lagi:
“Hai nabi perangilah orang-orang kafir dan orang-orang munafik dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka adalah neraka jahanam dan itu adalah seburuk-buruk tempat kembali” (At Tahriim : 9)

Dan firman-Nya lagi:
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu; Allah Mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” (Al Baqaraah : 216)



1. Perbedaan antara Mendakwahkan Islam (untuk menyebarluaskannya) dan Menegakkan Islam

Tersebarnya Dinul Islam artinya ialah tersebar luasnya dimana-mana tempat tetapi hanya diamalkan secara perorangan atau berkelompok-kelompok tidak terpimpin oleh suatu kuasa Daulah Islamiyah / Khilafah hingga Syariatnya tidak dapat diamalkan secara Khaffah dan bersih sebab musuh-musuh Islam masih merdeka untuk menggangunya. Dinul Islam dapat tersebar dengan usaha dakwah / tabligh, pendidikan dan usaha-usaha sosial.

Adapun yang dimaksud dengan tegaknya Dinul Islam ialah adanya kekuasaan Daulah Islamiyah / Khilafah sehingga Syariat Islam dapat diamalkan secara terpimpin rapi secara Khaffah dan bersih. Dinul Islam dapat ditegakkan dengan usaha-usaha dakwah / tabligh, pendidikan, usaha-usaha sosial dan jihad fisabilillah untuk memerangi orang-orang yang menghalangi tegaknya kekuasaan Islam / Khilafah.

Sunnah Nabi SAW menunjukkan bahwa perjuangan disamping harus menyebarluaskan Islam juga harus ditujukan kepada tegaknya Dinul Islam bukan hanya sekedar tersebarnya.


2.  Menegakkan Dinul Islam adalah satu-satunya Perjuangan yang Benar dan Mulia

Menegakkan Dinul Islam adalah merupakan satu-satunya perjuangan yang Haq / benar dan mulia di sisi Allah SWT, sebab ia merupakan perjuangan untuk menegakkan Al Haq / kebenaran, keadilan, kebebasan, kemerdekaan, keselamatan dan kebahagiaan baik di dunia maupun di akherat.

Semua bentuk perjuangan selain untuk menegakkan Dinul Islam adalah perjuangan Bathil dan mensia-siakan umur, waktu, tenaga, fikiran dan harta.

Memang tidak di nafikan bahwa semua perjuangan menuntut pengorbanan tetapi semua pengorbanan yang dikeluarkan dan penderitaan yang dirasakan dalam rangka menegakkan Dinul Islam sangat tinggi nilainya di sisi Allah SWT dan tidak hilang sia-sia begitu saja karena Allah SWT akan membalas dengan pahala yang sangat memuaskan dan kebaikan yang belipat ganda apabila perjuangan tersebut diamalkan dengan ikhlas dan mengikuti tuntunan Sunnah.

Sebaliknya pengorbanan dan penderitaan yang dirasakan dalam rangka perjuangan diluar menegakkan Dinul Islam misalnya pengorbanan untuk memperjuangkan menegakkan faham-faham / ideologi buatan manusia seperti sosialis, komunis, kapitalism, nasionalis, demokrasi dan lain-lain faham sama sekali tidak ada nilainya di sisi Allah SWT, oleh karena itu tidak akan dibalas dengan kebaikan bahkan akan dibalas dengan siksa karena faham-faham ideologi-ideologi itu semua merusak kehidupan umat manusia dan menghalangi tegaknya Dinul Islam serta merusakkannya cepat atau lambat, sebab pencipta semua paham itu adalah orang Kafir yang jelas-jelas mengingkari Nabi Muhammad SAW dan mengingkari Sunnahnya.

Dalam menerangkan perkara ini Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula sebagaimana kamu menderitanya sedang kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (An Nisaa’ : 104)


Keterangan:
Ayat tersebut diatas menerangkan bahwa pengorbanan dan penderitaan sama-sama akan dirasakan baik oleh pejuang yang menegakkan Dinul Islam maupun orang-orang yang berjuang untuk menentang Dinul Islam dan orang-orang yang berjuang untuk menegakkan faham-faham lain. Tetapi pengorbanan yang ada nilainya di sisi Allah SWT dan dapat diharapkan balasannya dari Allah SWT hanyalah pengorbanan yang di korbankan untuk menegakkan Dinul Islam, sedang yang lain tidak ada harapan untuk itu.

Perjuangan menegakkan Dinul Islam selalu mendapat keuntungan sebab apabila menang di dunia dapat merasakan kehidupan berbahagia dan mulia tenteram penuh berkah karena dengan kemenangan itu tidak ada lagi manusia Kafir dan kaum Sekuler yang berani menghalang dan menentang, sehingga hukum Allah dapat di amalan secara Kaaffah dan bersih.

Tetapi apabila mati terbunuh Insya Allah diterima di sisi Allah SWT dengan kemuliaan dan diberi rezeki oleh Allah SWT. Allah SWT berfirman:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikannya kepada mereka dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal dibelakang yang menyusul mereka bahwa tidak ada kehawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati” (Ali Imraan : 169, 170)

Bahkan dengan jelas Allah SWT menamakan menang di dunia atau mati dalam rangka menegakkan Dinul Islam dengan nama “Husnayaini” (dua kebaikan) yakni menang di dunia juga baik terbunuh juga baik, karena nilainya mati syahid.

Sebaliknya berjuang untuk menegakkan ideologi selain Dinul Islam apabila menang di dunia ia akan hidup dalam warna kebathilan, kemaksiatan dan penuh fitnah karena Syariat Allah dihalangi sama sekali untuk diamalkan sedang yang berlaku undang-undang jahiliah yang memberi kelonggaran kepada peranan hawa nafsu, maka kemenangan ini penuh dengan fitnah, ini pada hakekatnya merupakan adzab di dunia.

Adapun apabila kalah dan terbunuh ia akan terjerumus kedalam kematian yang hina tidak ada nilainya sedikitpun dihadapan Allah SWT bahkan akan ditimpa azab pedih di akherat nanti.

Allah SWT menerangkan hal ini dalam firman-Nya:
“Katakanlah tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami kecuali kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab yang besar dari sisinya, atau azab dengan tangan kami. Sebab itu tunggulah sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu”. (At Taubah : 52)


Keterangan:
Ayat tersebut diatas menerangkan bahwa orang yang terjun dalam perjuangan menegakkan Dinul Islam apabila ikhlas dan benar pasti akan mendapat salah satu dari dua kebaikan, yakni menang di dunia atau mati syahid. Sedang mereka yang berjuang menegakkan selain Dinul Islam akan ditimpa azab baik langsung dari Allah atau melalui tangan umat Islam (dikalahkan).



3.  Metode Mendakwahkan dan Menegakkan Dinul Islam menurut Tuntunan Al Quran dan Sunnah

Mendakwahkan dan menegakkan Dinul Islam wajib diamalkan mengikuti tuntunan Al Quran dan Sunnah tidak boleh mengikuti fikiran semata-mata. Dalam sejarah kehidupan dan perjuangan Nabi SAW, banyak mengandung contoh tauladan bagaimana cara mendakwahkan dan menegakkan Dinul Islam. Tauladan ini merupakan Sunnah Nabi SAW yang harus diamalkan dalam rangka mendakwahkan dan menegakkan Dinul Islam, sebab pada diri Baginda Nabi SAW terdapat tauladan yang baik dan sempurna dalam semua aspek pengamalan Dinul Islam yang antara lain tauladan bagaimana cara mengamalkan Dinul Islam dan bagaimana cara mendakwahkan dan menegakkannya.

Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah SW itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharapkan rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Al Ahzaab : 21)

8:56 AM | Posted in , | Read More »

Recently Commented

Recently Added